Selasa, 25 September 2012

Manfaat media pembelajaran matematika


MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
A.    Pengertian media pembelajaran
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) adalah  media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran. Media pembelajaran diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran.
B.     Jenis-jenis media pembelajaran

Ø  Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi media Audio, media Visual dan media Audio Visual.
Ø  Dilihat dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media dengan daya liput luas dan serentak, media dengan daya liput yang terbatas dengan ruang dan tempat dan media pengajaran individual.
Ø   Dilihat dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi media sederhana (murah dan mudah memperolehnya) dan media komplek.
Ø  Dilihat dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media grafis (dua dimensi), media tiga dimensi, dan media elektronik.
Menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) media pembelajaran dapat digolongkan yaitu :
§  Gambar diam, baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyektor.
§  Gambar gerak, baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara.
§  Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam.
§  Benda – benda hidup, simulasi maupun model.
§  Instruksional berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).

C.Manfaat Media Pembelajaran Matematika

Media pembelajaran dapat diartikan semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya proses pembelajaran.jadi seorang guru dalam menyampaikan sebuah materi pembelajaran perlu menggunakan media ,agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efesien dan mempertinggi dalam proses pembelajaran.
o   Fungsi Media Pembelajaran
 Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
o   Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).
o   Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).
o   Semua indera murid dapat diaktifkan.
o    Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
o   Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.


Alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa
sebagai berikut :
1)      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.
2)      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.
3)       Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.
4)       Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.

Menurut Ensiclopedi of Educational Reseach, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut:
*      Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.
*      Memperbesar perhatian siswa.
*      Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.
*       Memberikan pengalaman yang nyata.
*      Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
*       Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.
*      Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.
*      Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.
*       Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.
*      Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam belajar matematika,pengalaman belajar siswa sangatlah penting.pengalaman tersebut akan membentuk pemahaman, apa bila ditunjang dengan alat bantu belajar, agar pemahaman mereka menjadi kongkrit, dengan demikian alat bantu belajar atau media akan berfungsi dengan baik,apa bila media tersebut dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna,mengaktifkan dan menyenangkan siswa.





DAFTAR PUSTAKA
Sukayati,2001.pembelajara Matematika Secara Aktif,Efektif dengan Memanfaatkan Media Pembelajaran,Yogyakarta :PPPG

Hudojo,H.1998 .Mengajar Belajar Matematika.Jakarta : Depdikbud

Teori-teori belajar matematika


Tugas Mandiri                                                                                   Dosen Pengampu

Pembelajaran Matematika                                                               Melly Andriani, M.Pd

 

 

 

        TEORI-TEORI BELAJAR MATEMATIKA

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

 

 

ENI YULIAWATI

( 11O18200052 )

 

LOKAL PGMI V B

 

 

 

            JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SULTAN SYARIF KASIM RIAU

PEKANBARU

2012




TEORI-TEORI BELAJAR MATEMATIKA
Belajar adalah merupakan proses perubahan yang relatif  permanen dalam prilaku atau potensi perilaku atau pemikiran sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar adalah dampak dari adanya interaksi antara rangsangan dan tanggapan. seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukan perubahan perilakunya, berikut ada beberapa teori belajar matematika menurut para ahli diantaranya :ne
1.      Teori Gagne
Menurut gagne ada 2 objek belajar matematika yaitu
Ø  Objek langsung (fakta, keterampilan,konsep dan aturan-aturan )
Ø  Objek tak langsung (kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah sendiri, bersikap positif terhadap matematika )
Ada 8 tipe belajar menurut Gagne
§  Isyarat    
§  Stimulus
§  Rangkaian gerak
§  Rangkaian verbal
§  Belajar membedakan
§  Pembentukan konsep
§  Pembentukan aturan
§  Pemecahan masalah
2.      Teori Bruner
Bruner menyatakan bahwa matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran anak diarahkan pada konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktut tersebut.
Burner membagi 3 tahapan belajar yaitu
                               I.            Tahapan enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
                            II.            Tahapan ikonik
Tahapan dimana kegiatan siswa berhubungan dengan mental, merupakan gambaran dari objek yang dimanipulasinya.
                         III.            Tahapan simbolik
Tahapan dimana anak-anak memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu.

3.      Teori Thorndike
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.

4.      Teori belajar piaget
Piaget menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemata(Schemas), yaitu kumpulan dari skema- skema.Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya schemata ini.
Skemata ini berkembang secara kronologis,sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya,sehingga individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari pada ketika ia masih kecil.
Piaget membagi perkembangan kognitif dalam 4 fase yaitu

1)      Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini,pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh)dan sensori (koordinasi alat indra).
2)      Tahap Pra Operasi (2-7tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit.Operasi konkrit adalah berupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan sekelompok objek,menata letak benda berdasarkan urutan tertentu,dan membilang.
3)      Tahap Operasi Konkrit(7 -11 tahun)
Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan mengklasifikasi,  mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
4)      Tahap Operasi Formal (11 tahun dan seterusnya)
5)      Tahap ini merupakantahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi.

5.      Teori Ausubel
Teori ini terkenal belajar bermakna dan pentingya pengulangan sebelum belajar dimulai.Ausubel membedakan antara belajar menemukan dan belajar menerima. Dalam belajar, siswa hanya menerima dan tinggal menghapalkan materi , sedangkan pada belajar menemukaan, siswa tidak menerima pelajaran begitu saja, tetapi konsep ditemukan oleh siswa.

6.      Teori Gestal
Gestalt menyatakan bahwa penguasaan akan diperoleh apabila ada prasyaratndan latihan hafal atau drill yang diulang-ulang sehingga tidak mengherankan jika ada topic-topik di tata secara urut seperti perkalian bilangan cacah kurang dari sepuluh.

7.      Teori belajar W.Brownell
Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika merupakan belajar bermakna dan pengertian hal ini sesuai dengar teori gestal yang menyatakan bahwa latihan hafal atau drill sangat penting dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan setelah tertanamya pengertian.

8.      Teori Dienes
Zoltan P.Dienes adalah seorang matematikawan yang memfokuskan perhatiannya pada cara pengajaran.Dienes menekankan bahwa dalam pembelajaran sebaiknya dikembangkan suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga bisa meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika.

9.      Teori Pavlov
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan(conditioning). Dalam kegiatan belajar,  agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan baik, biasakanlah   dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau member nilai terhadap hasil pekerjaannya.



10.  Teori Van Hiele
Menurut Van Hiele ada tiga unsure dalam pengajaran matematika yaitu waktu,materi pengajaran danmetode pengajaran,jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi peningkatan kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi.
 Tahap perkembangan siswa dalam memahami geometri:
·         Pengenalan
·          Analisis
·          Pengurutan
·          Deduksi
·          keakuratan (rigor)

11.  Teori Kolb
Kolb membagi tahapan belajar ke dalam empat tahapan, yaitu:
·         pengalaman konkret
·         pengamatan aktif dan reflektif
·         konseptualisasi
·         eksperimentasi aktif














DAFTAR PUSTAKA
Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. MIPA UPI. Bandung.
Hudojo H,. (1988). Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud