Selasa, 25 September 2012

Teori-teori belajar matematika


Tugas Mandiri                                                                                   Dosen Pengampu

Pembelajaran Matematika                                                               Melly Andriani, M.Pd

 

 

 

        TEORI-TEORI BELAJAR MATEMATIKA

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

 

 

ENI YULIAWATI

( 11O18200052 )

 

LOKAL PGMI V B

 

 

 

            JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SULTAN SYARIF KASIM RIAU

PEKANBARU

2012




TEORI-TEORI BELAJAR MATEMATIKA
Belajar adalah merupakan proses perubahan yang relatif  permanen dalam prilaku atau potensi perilaku atau pemikiran sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar adalah dampak dari adanya interaksi antara rangsangan dan tanggapan. seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukan perubahan perilakunya, berikut ada beberapa teori belajar matematika menurut para ahli diantaranya :ne
1.      Teori Gagne
Menurut gagne ada 2 objek belajar matematika yaitu
Ø  Objek langsung (fakta, keterampilan,konsep dan aturan-aturan )
Ø  Objek tak langsung (kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah sendiri, bersikap positif terhadap matematika )
Ada 8 tipe belajar menurut Gagne
§  Isyarat    
§  Stimulus
§  Rangkaian gerak
§  Rangkaian verbal
§  Belajar membedakan
§  Pembentukan konsep
§  Pembentukan aturan
§  Pemecahan masalah
2.      Teori Bruner
Bruner menyatakan bahwa matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran anak diarahkan pada konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktut tersebut.
Burner membagi 3 tahapan belajar yaitu
                               I.            Tahapan enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
                            II.            Tahapan ikonik
Tahapan dimana kegiatan siswa berhubungan dengan mental, merupakan gambaran dari objek yang dimanipulasinya.
                         III.            Tahapan simbolik
Tahapan dimana anak-anak memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu.

3.      Teori Thorndike
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.

4.      Teori belajar piaget
Piaget menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemata(Schemas), yaitu kumpulan dari skema- skema.Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya schemata ini.
Skemata ini berkembang secara kronologis,sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya,sehingga individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari pada ketika ia masih kecil.
Piaget membagi perkembangan kognitif dalam 4 fase yaitu

1)      Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini,pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh)dan sensori (koordinasi alat indra).
2)      Tahap Pra Operasi (2-7tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit.Operasi konkrit adalah berupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan sekelompok objek,menata letak benda berdasarkan urutan tertentu,dan membilang.
3)      Tahap Operasi Konkrit(7 -11 tahun)
Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan mengklasifikasi,  mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
4)      Tahap Operasi Formal (11 tahun dan seterusnya)
5)      Tahap ini merupakantahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi.

5.      Teori Ausubel
Teori ini terkenal belajar bermakna dan pentingya pengulangan sebelum belajar dimulai.Ausubel membedakan antara belajar menemukan dan belajar menerima. Dalam belajar, siswa hanya menerima dan tinggal menghapalkan materi , sedangkan pada belajar menemukaan, siswa tidak menerima pelajaran begitu saja, tetapi konsep ditemukan oleh siswa.

6.      Teori Gestal
Gestalt menyatakan bahwa penguasaan akan diperoleh apabila ada prasyaratndan latihan hafal atau drill yang diulang-ulang sehingga tidak mengherankan jika ada topic-topik di tata secara urut seperti perkalian bilangan cacah kurang dari sepuluh.

7.      Teori belajar W.Brownell
Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika merupakan belajar bermakna dan pengertian hal ini sesuai dengar teori gestal yang menyatakan bahwa latihan hafal atau drill sangat penting dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan setelah tertanamya pengertian.

8.      Teori Dienes
Zoltan P.Dienes adalah seorang matematikawan yang memfokuskan perhatiannya pada cara pengajaran.Dienes menekankan bahwa dalam pembelajaran sebaiknya dikembangkan suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga bisa meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika.

9.      Teori Pavlov
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan(conditioning). Dalam kegiatan belajar,  agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan baik, biasakanlah   dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau member nilai terhadap hasil pekerjaannya.



10.  Teori Van Hiele
Menurut Van Hiele ada tiga unsure dalam pengajaran matematika yaitu waktu,materi pengajaran danmetode pengajaran,jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi peningkatan kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi.
 Tahap perkembangan siswa dalam memahami geometri:
·         Pengenalan
·          Analisis
·          Pengurutan
·          Deduksi
·          keakuratan (rigor)

11.  Teori Kolb
Kolb membagi tahapan belajar ke dalam empat tahapan, yaitu:
·         pengalaman konkret
·         pengamatan aktif dan reflektif
·         konseptualisasi
·         eksperimentasi aktif














DAFTAR PUSTAKA
Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. MIPA UPI. Bandung.
Hudojo H,. (1988). Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud


Tidak ada komentar:

Posting Komentar