Tugas Mandiri Dosen Pengampu
Pembelajaran Matematika Melly Andriani, M.Pd
TEORI-TEORI BELAJAR MATEMATIKA
DISUSUN OLEH :
ENI YULIAWATI
( 11O18200052 )
LOKAL PGMI V B
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2012
TEORI-TEORI
BELAJAR MATEMATIKA
Belajar
adalah merupakan proses perubahan yang relatif permanen dalam prilaku atau potensi perilaku
atau pemikiran sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar
adalah dampak dari adanya interaksi antara rangsangan dan tanggapan. seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukan perubahan perilakunya,
berikut ada beberapa teori belajar matematika menurut para ahli diantaranya :ne
1.
Teori Gagne
Menurut
gagne ada 2 objek belajar matematika yaitu
Ø Objek
langsung (fakta, keterampilan,konsep dan aturan-aturan )
Ø Objek
tak langsung (kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah sendiri, bersikap
positif terhadap matematika )
Ada 8 tipe belajar menurut Gagne
§ Isyarat
§ Stimulus
§ Rangkaian
gerak
§ Rangkaian
verbal
§ Belajar
membedakan
§ Pembentukan
konsep
§ Pembentukan
aturan
§ Pemecahan
masalah
2.
Teori Bruner
Bruner
menyatakan bahwa matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran anak
diarahkan pada konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan
yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktut
tersebut.
Burner
membagi 3 tahapan belajar yaitu
I.
Tahapan enaktif
Dalam tahap
ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
II.
Tahapan ikonik
Tahapan
dimana kegiatan siswa berhubungan dengan mental, merupakan gambaran dari objek
yang dimanipulasinya.
III.
Tahapan simbolik
Tahapan
dimana anak-anak memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu.
3.
Teori Thorndike
Teori
belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan
koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan
proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.
4.
Teori belajar piaget
Piaget
menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemata(Schemas), yaitu kumpulan
dari skema- skema.Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan
respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya schemata ini.
Skemata ini berkembang secara
kronologis,sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya,sehingga
individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari
pada ketika ia masih kecil.
Piaget membagi perkembangan kognitif
dalam 4 fase yaitu
1) Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)
Bagi anak
yang berada pada tahap ini,pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan
anggota tubuh)dan sensori (koordinasi alat indra).
2) Tahap Pra Operasi (2-7tahun)
Ini
merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit.Operasi
konkrit adalah berupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan
sekelompok objek,menata letak benda berdasarkan urutan tertentu,dan membilang.
3) Tahap Operasi Konkrit(7 -11 tahun)
Umumnya
anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan
mengklasifikasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang
berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
4) Tahap Operasi Formal (11 tahun dan seterusnya)
5) Tahap ini
merupakantahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada
tahap ini sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang
abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau
peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan simbol-simbol, ide-ide,
abstraksi dan generalisasi.
5.
Teori Ausubel
Teori ini
terkenal belajar bermakna dan pentingya pengulangan sebelum belajar
dimulai.Ausubel membedakan antara belajar menemukan dan belajar menerima. Dalam
belajar, siswa hanya menerima dan tinggal menghapalkan materi , sedangkan pada
belajar menemukaan, siswa tidak menerima pelajaran begitu saja, tetapi konsep
ditemukan oleh siswa.
6.
Teori Gestal
Gestalt
menyatakan bahwa penguasaan akan diperoleh apabila ada prasyaratndan latihan
hafal atau drill yang diulang-ulang sehingga tidak mengherankan jika ada
topic-topik di tata secara urut seperti perkalian bilangan cacah kurang dari
sepuluh.
7.
Teori belajar W.Brownell
Brownell mengemukakan
bahwa belajar matematika merupakan belajar bermakna dan pengertian hal ini
sesuai dengar teori gestal yang menyatakan bahwa latihan hafal atau drill
sangat penting dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan setelah tertanamya
pengertian.
8.
Teori Dienes
Zoltan
P.Dienes adalah seorang matematikawan yang memfokuskan perhatiannya pada cara
pengajaran.Dienes menekankan bahwa dalam pembelajaran sebaiknya dikembangkan
suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga bisa meningkatkan minat siswa
terhadap pelajaran matematika.
9.
Teori Pavlov
Pavlov
mengemukakan konsep pembiasaan(conditioning). Dalam kegiatan
belajar, agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya,
agar siswa mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan baik, biasakanlah
dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau member nilai terhadap hasil
pekerjaannya.
10. Teori Van
Hiele
Menurut Van
Hiele ada tiga unsure dalam pengajaran matematika yaitu waktu,materi pengajaran
danmetode pengajaran,jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi
peningkatan kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi.
Tahap perkembangan siswa dalam
memahami geometri:
·
Pengenalan
·
Analisis
·
Pengurutan
·
Deduksi
·
keakuratan
(rigor)
11. Teori Kolb
Kolb membagi tahapan belajar ke
dalam empat tahapan, yaitu:
·
pengalaman konkret
·
pengamatan aktif dan reflektif
·
konseptualisasi
·
eksperimentasi aktif
DAFTAR PUSTAKA
Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer. MIPA UPI. Bandung.
Hudojo H,. (1988). Belajar Mengajar Matematika. Jakarta:
Depdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar